Rabu, 25 Mei 2016

Sinergi Semangat Kemanusiaan dan Semangat Ketauhidan

HMI Sebagai Organisasi perkaderan senantiasa mengikuti perkembangan zaman. Semangat Keislaman dan kebangsaan yang di Emban HMI sejak kemunculannya, harus tetap dijaga sampai kapanpun. NDP yang dirumuskan di Malang hampir setengah abad lalu tentunya masih menuai banyak pertanyaan terkait wujud realita yang ada. Cak Nur menyatakan bahwa Nilai akan tetap namun yang berbeda adalah tekanan implikasinya. Mengingat NDP sebagai salah satu dokumen organisasi yang ‘sakral’ maka tergeraklah Bidang PPPA (Penelitian, Pengembangan dan Pembinaan Anggota) HMI Komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang  untuk menyelenggarakan Sekolah NDP setiap dwi mingguan.
Selasa Malam (24/05) sejumlah kader HMI berkumpul di Masjid Ulul Albab lantai tiga untuk megikuti Sekolah NDP . Pembahasan kali itu adalah tentang Ketuhanan Yang maha Esa dan Perikemanusiaan atau merupakan NDP yang ke empat. Sebagai fasilitator, Kakanda Fitra Dari Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Malang, membahas tentang konsep yang terkandung dalam NDP empat ini.
Sejatinya Ketauhidan adalah pangkal dari segala tindakan. Termasuk dalam rangka tugas kemanusiaan yang melekat pada manusia sebagai Khalifah-Nya di muka bumi. Sehingga inilah yang membedakan dengan konsep kemanusiaan yang antroposentris (empati kepada sesama) ansich dengan konsep kemanusiaan yang ada dalam islam. Segala upaya dalam mewujudkan kemakmuran di bumi adalah untuk menjadikan manusia Insan yang seutuhnya (insan kamil) yang bukan hanya sekedar being (tercipta) namun lebih dari itu adalah becoming (mencipta).
Namun beberapa masalah muncul pada tataran implementasi. Berapa banyak kelompok yang menghalalkan dara saudaranya atas nama Agama. Tentu saja ini ada missconception dalam memaknai kalam Tuhan. Hal ini menjadi sebuah catatan penting, sehingga diharapkan Kader HMI mampu menangkap problematika sosial dan berperan dalam upaya perbaikan menuju terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridloi Allah SWT. (fu)

Minggu, 22 Mei 2016

MENGURAI PEMAHAMAN IKHTIAR DAN TAKDIR DI SEKOLAH NDP (3)

Untuk kesekian kalinya HMI Komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang mengadakan sekolah NDP. Dan pada kesempatan ini Bidang PPPA akhirnya memutuskan untuk mengadakan di depan gedung Ir Soekarno (rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Sekolah NDP yang dilaksanak pada hari Senin malam tersebut (03/05) merupakan sekolah NDP yang ke-3 dengan tema yang dibahas yaitu 'ikhtiar dan takdir'.
Tema ini merupakan tema yang sangat menarik untuk didiskusikan, pasalnya banyak kader yang aktif untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti oleh mereka. Karena saking terlalu aktifnya ada salah satu kader yang terus menerus bertanya sehingga situasi menjadi agak panas. Namun sudah menjadi tradisi HMI, pendiskusian cukup panas tersebut untuk mencari pemahaman akan sebuah kebenaran. Ketua bidang PPPA selaku penanggung jawab terlaksananya sekolah NDP mengundang kakanda Baburrahman, SE. sebagai pemateri. Keberhasilan organisasi bertitik tolahk pada pemahaman anggotanya terhadap nilai-nilai yang dimilikinya. Semoga kegiatan ini semakin memantapkan langkah HMI dari waktu ke waktu. Dan nantikan Sekolan NDP selanjutnya. (maj)

MEMBANGUN KEMBALI TONGGAK DAKWAH BULETIN INSAN CITA

Buletin Insan cita begitulah akrab diucapkan dan didengar di kalangan kader HMI komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang hingga generasi 2014. Lalu bagaimana generasi setelah itu? Mereka mungkin pernah sesekali mendengar kata buletin insancita, namun karena hampir tidak pernah terbit lagi, maka maklum bila kebanyakan kader baru belum banyak mengerti tentang buletin ini.
Setelah melakukan musyawarah di salah satu warung kopi di kawasan Merjosari sabtu malam (21/05), akhirnya tercetuslah lagi ide untuk mengaktifkan kembali buletin Insan Cita. Hal ini diharapkan memacu kreativitas kader dalam menuangkan gagasannya dalam tulisan dan menyalurkannya ke berbagai kalangan dalam rangka dakwah 'bil qolam'.
Buletin ini akan dipunggawai oleh dua kadet HMI komiasriat Syariah-Ekonomi UIN Malang yaitu Zaki Safrichal dan June Alif. Keduanya di beberapa hari sebelumnya telah mengikuti pelatihan Jurnalistik di HMI Ekonomi UMM yang turut mengundang Alfan Alfian salah satu anggota KAHMI yang cukup getol dalam kegiatan kepenulisan. Dengan wadah inilah salah satu tombak keintelektualan HMI mencoba ditunjjukkan demi mewujudan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Bagi segenap kader HMI komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang yang ingin berkontribusi tulisan, langsung hubungi kawan Zaki di nomor 085645959060. Pengiriman tulisan via e-mail di hmisyaeko@gmail.com. Dan tulisan terdiri dari tiga rubrik, yaitu OPTA (OPINI KITA), JAS MERAH, BERITA , dan TOKOH. Semangat Menulis, Semangat Dakwah ! (Fu)

Jumat, 20 Mei 2016

SEKOLAH KEPENULISAN CHAPTER 3

Sekolah kepenulisan yang diadakan oleh bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) komisariat Syariah Ekonomi (Syaeko) pada Rabu malam tanggal 18 Mei 2016 berjalan dengan lancar dan terkendali, tema yang diagkat adalah "serba-serbi kepenulisan populer" degan pemateri yang sangat berkompeten dan terkenal dalam hal kepenulisan yaitu Kakanda Fiqh Vredian.
Langkah  yang dilakukan pada agenda kali itu adalah dengan "mengkliping" Opini pada koran Kompas yang ada pada komisariat, para peserta memulai memotong halaman opini menjadi empat bagian dan menempelkan potongan tersebut pada empat halaman kertas HVS, ini bertujuan untuk agar lebih mudah dalam membedah opini pada setiap paragraf. Beberapa teknik ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan dalam memahami sistematika penulisan opini dalam surat kabar.

Program yang diadakan secara rutin ini memang diharapkan dapat membentuk kader-kader HMI yang mempunyai keterampilan menulis yang berkualitas. "Potensi kader perlu dimunculkan, salah satunya di bidang tulis menulis ini. Dengan forum kepenulisan semoga meningkatkan kualitas tulisan mereka" kata Abdul Alim ketua bidang KPP. Salah satu peserta sekolah kepenulisan ini, jayanti, berpendapat "Forum ini adalah wahana pembelajaran yang bagus untuk para kader HMI, selain memacu untuk menulis dengan baik dan benar, namun juga memotivasi saya untuk terus membaca.". Semoga kegiatan ini bisa memunculkan para penulis-penulis handal di masa depan. (Imm/Fu)

Selasa, 17 Mei 2016

SIDANG PLENO I ARENA EVALUASI PENGURUS KOMISARIAT

Sudah satu semester telah dilewati oleh pengurus HMI Komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang periode 1437-1438 H./2015-2016. Dinamika perkaderan mulai hidup dengan bertambahnya anggota dalam persidangan. Pengurus dengan begitu banyaknya program kerja tak ayalnya menemui berbaga kendala yang akhirnya perlu wadah untuk evaluasi bersama demi keterlanjutan organisasi menuju arah yang lebih baik. Hal inilah yang yang menginisiasi pengurus HMI Komisariat Syaeko (sebutan umum komisariat ini) untuk mengadakan Sidang Pleno I pada hari minggu (15/05) di hallroom komisariat.
Sidang pleno yang diadakan oleh komisariat syariah-ekonomi dimulai pada jam 09.30 WIB. Lebih dari tiga puluh kader hadir dalam sidang pleno tersebut terdiri dari pengurus, anggota hingga MPK-PK. Para peserta sidang mengikuti forum dengan penuh antusias dan semua adalah dalam rangka memperbaiki kinerja komisariat ke depan. Sidang ini diformat dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban masing-masing bidang dan kemudian forum akan meresponnya.
Sidang Pleno I ini termasuk kegiaatan yang hampir belum dilaksanakan pada kepengurusan sebelumnya. Berbeda dengan Rapat Anggota Komisariat (RAK) dalam hal ini Pleno I selain  pengurus mengevaluasi kinerja yang telah berlangsung selama satu semester namun uga sekaligus memberikan kesempatan untuk  memperbaiki kinerja di semester kedepan.
Satu persatu dari setiap bidang mempertanggungjawabkan program kerja yang telah dilakukan oleh pengurus HMI komisariat syariah-ekonomi. di mulai dari bidang P3A kemudian bidang PTKP dan selanjutnya bidang PP. dari tiga bidang tersebut telah menghabiskan waktu sehari. Hal ini tidak sesuai dengan harapan awal yang menginginkan sidang pleno ini hanya dilakukan satu hari. sehingga menyebabkan sidang pleno harus dilanjutkan pada kesempatan lain sesuai kesepakatan forum.
Kegiatan ini dinilai sangat berkesan bagi para kader komisariat seperti pernyataan dari Latifah salah satu kader mahasiswa fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang "Banyak ilmu yang didapat dari Pleno ini, mulai dari bagaimana proses persidangan dalam HMI hingga melatih untuk berani bicara dalam forum serta bagaimana menghargai pendapat orang lain". Hal senada diungkapkan oleh ketua umum HMI komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang Mohammad Zainullah "Keberadaan Pleno I merupakan instrumen untuk komisariat lebih baik dan lebih solid dengan berbagai dinamika di dalam organisasi. Semoga semua usaha pada akhirnya berdampak positif pada kualitas perkaderan HMI yang selalu bisa merespon zamannya. Yakin Usaha Sampai. (Majid/ifah)

Selasa, 22 Maret 2016

Apalah Saya Ini




Siapa Saja Bisa Menjadi Apasaja (Anis Baswedan). Bangsa Indonesia memiliki sejarah pelik sebagai negara jajahan Kolonialisme. Kurang lebih sekitar tiga abad lamanya sebagian besar manusia di negeri ini terisolir pemikirannya akan kebebasan. Politik kekuasaan kolonialisme yang menggunakan sistem pembodohan terbukti sangat efektif. Bahkan hingga anak cucu keturunannya bangsa ini sampai sekarang masih terasa keterpurukannya, hal ini dapat dibuktikan dengan betapa banyaknya jiwa-jiwa bangsa ini yang merasa pesimis akan kemampuannya. Merasa tidak mampu, takut mengambil resiko, hanya ingin melakukan hal-hal yang sudah jelas keuntungan materilnya.
Bakat pemberian Allah jangan hanya kau sembunyikan, persembahkan seluruhnya kepada Nusa, Bangsa dan Negara (Albertus Soegijapranata). Setiap insan memiliki talenta yang tersembunyi dalam dirinya, terutama para pemuda. Namun banyak anak muda yang kurang bisa mengoptimalkan bakatnya. Salah satu faktornya adalah psikologi pesimis. Mungkin juga karena hal ini sudah menjadi psikologi turunan. pemuda yang hidup dalam lingkungan keluarga hedonisme dan serba Instan. Atau memang sifat psikologi ini sudah diturunkan sejak bangsa ini diperbudak dan diperbodoh bangsa lain (masa penjajahan).
Semenjak memasuki abad ke 21 ini, mulai banyak kreatifitas-kreatifitas yang muncul dari anak bangsa. Mental pesimis itu kini mulai terkikis. Jiwa-jiwa yang dulunya terpuruk kini mulai bangkit dan menunjukkan taring kreafitasnya. Namun permasalahannya saat ini adalah tidak tersedianya wadah yang menampung kreatifitas tersebut secara optimal. Contohnya dalam sudut pandang UMKM, banyak UMKM yang dapat menghasilkan berbagai kreatifitas produksi yang terabaikan oleh pemerintah. Pemerintah kurang memfasilitasi dan mengapresiasi hal ini. Masih banyak potensi yang belum teroptimalkan karena kurangnya dukungan, baik dukungan materiil, teknologi, maupun tenaga profesional. 
Tidak terapresiasinya kreatifitas-kreatifitas masyarakt tersebut dipengaruhi oleh kebijakan politik. Kebijakan politik diambil oleh orang-orang yang berkepentingan secara individu maupun kelompok. Egoisme kebijakan tersebut dilatar belakangi oleh pendidikan karakter yang kurang tepat. Pendidikan karakter yang luhur haruslah ditanamkan sejak dini. Namaun metode pembelajaran di negeri ini dirasa sudah tidak relevan lagi. Perlu adanya perubahan yang signifikan, metode pembelajaran yang dulunya begitu kognitif harus bertransformasi ke metode pembelajaran yang aplikatif. Metode pembelajaran kognitif yang hanya terfokus pada teks pelajaran sudah tidak relevan.
Metode Pembelajaran Kognitif
Beberapa tahun terakhir sistem pendidikan kita dibingungkan dengan penentuan standart kompetensi yang akan diterapkan. Hal teknis semacam ini sudah amat sering kita ubah, sehingga perihal kualitas acapkali terabaikan. Seyogyanya kita harus lebih terfokus terhadap potensi-potensi anak didik daripada meliberalisme pendidikan seperti ini. Karena potensi-potensi tersebut memerlukan sebuah perangsang agar ia dapat keluar. Pengaruh lingkungan dan pendidikan menjadi faktor utama tumbuh kembangnya talenta terpendam tersebut.
Di negeri Belanda sebuah Universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. Mengapa demikian? Karena semua warag negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Kemudian bagaimana bisa menghasilakan kualitas lulusan yang baik jika dalam seleksi masuknya asal-asalan? Hal itu sangat gampang, kita perketat seleksi di semester ke dua, akan tampak mana mahasiswa yang benar benar memiliki potensi dan niat untuk berkembang dengan yang hanya sekedar asal kuliah. Oleh sebab itu banyak mahasiswa yang Drop Out pada semester ke dua, di sinilah kita baru berbicara kualitas.
Metode pembelajaran di negri ini terlalu kognitif, para guru akan merasa bangga dengan murid yang memiliki nilai bagus, yang tak tau bagaimana mereka berusaha untuk menggapainya. Dan celakanya, para guru mengabaikan siswa-siwa yang aktif namun tak menguasai semua objek materi dalam kelas. Metode tersebut hanya mencetak lulusan bebek, yang tak tau bagaimana berkorelasi dan memabur dengan lingkungan sekitar. Karena mereka hanya dinilai berdasarkan angka yang tertera dalam sebuah kertas.
Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segara resources. Diperlukan guru yang bukan hanya seorang pengajar, namun juga seorang pendidik. Guru tak bisa lagi hanya memberikan semua isi buku untuk dihafalakan, tetapi guru dituntut untuk memberikan bagaimana hidup tanpa guru, life long learning. Oleh sebab itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tidak bisa dikunyah. Kualitas guru harus dirubah, fasilitas harus disesuaikan kebutuhan dan tak berhenti untuk berinovasi dalam mendidik (Renald Kasali, Sekolah Untuk Apa?, Koran Sindo, 7 juli 2011).     
Belajar kepada Leonardo Wilhelm Dicaprio
Aktor Hollywood yang kini berumur 41 tahun ini, kini mnejadi perbincangan diberbagai media masa, setelah kesuksesannya sebagai aktor terbaik dalam Academy Awards dengan film yang dibintanginnya The Revenant, 2016. Dalam film-film yang dibintanginya, Leo dikenal sebagai aktor yang gemar menjalani peran-peran yang tak biasa, dalam film The Revenant leo berakting memakan jeroan bison dan berlindung di balik tumpukan bangkai kuda di tengah dinginnya badai salju pegunungan. Leo tertarik memerankan Leo selalu melalu melakukan perannya secar totalitas.
Apa yang sudah diraih oleh leo merupakan hasil kerja keras dan komitmennya dalam dunia perfileman. Seyogyanya seperti itulah kita dalam menjalani proses kehidupan ini. Tak perlu risau siapa kita, darimana asal kita, bagaimana latar belakang keluarga kita. Karena itu semua tidak berpengaruh terhadap apa yang bisa dicapai di masa depan. Karena hasil tak pernah menghianati usaha.            
Siapa saja bisa menjadi apa saja. Paradoks tersebut menjadi penggugah semangat yang membuat degap jantung semakin menggebu untuk melakukan perubahan, terutama dalam diri sendiri. Mari melupakan kepahitan masa lalu, masa lalu negatif yang bisa membunuh optimistis. Mari lupakan apa latar belakang kita, dari keluarga mana kita berasal. Apapun yang menjadi tembok penghalang kemajuan kita mari hancurkan, bukaklah masa depan dengan tangan anda sendiri, jika bukan anda yang melakukan perubahan, lalu siapa lagi?
 Steve Jobs
Apa saja yang tak membuatku mati terbunuh, akan membuatku lebih tangguh (Steve Jobs). Banyak orang menjalani keterpurukan dan tidak mau belajar sehingga mereka tidak berkembang. Mereka berhenti saat mendapatkan pelajarannya sehingga kepahitan itu menjadi sia-sia. Kebanyakan orang enggan untuk keluar dari kursi nyamannya. Lebih memilih menjadi passenger (penumpang). Hal-hal yang dikerjakanya sudah tertera dalam kertas. Apa yang dilakukannya juga sudah ditentukan oleh normatifisme struktural baik dalam dunia kerja, pendidikan, maupun jabatan lainnya.
Pendiri Apple tersebut dikenal dengan kecerdasan dan kreatifitasnya yang berani menembus kebiasaan-kebiasaan formalitisme. Steve Jobs benar-benar memanfaatkan kecerdasan dan kecakapannya dalam berinofasi. Ia tidak mau diatur oleh aturan-aturan normatif yang malah akan membelenggu kratifitasnya. Dengan kegigihan yang kuat itulah kini namanya tak terhapuskan dari sejarah. Kunci dari semua itu adalah “Seberapa kuat keinginan anda dan seberapa besar usaha anda”.
Semua jenis kegagalan di masa lalu adalah pembelajaran. Waktu yang telah lalu tak mungkin dapat anda nikmati lagi dan masa depan adalah misteri. Hal paling realistis adalah memanfaatkan waktu saat ini dengan sebaik-baiknya. Berusaha dengan seluruh tenaga, pantang berputus asa. Masa depan bukanlah akhir tujuan, masa depan hanyalah identitas untuk menggambarkan waktu yang belum terjadi. Apa yang akan anda capai di masa depan adalah seberapa besar usaha anda. Yang perlu dilakukan hanyalah berusaha dan terus berusaha karena “siapa saja bisa menjadi apa saja”.


Muhtar Salam.
(Bidang Penelitian, Pembinaan dan Pengembangan Anggota 
HMI Komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang periode 2015-2016)